Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Jumat, 29 Maret 2013
Cara Mengajarkan Anak Supaya Memahami Perasaan Orang Lain
4 tips sederhana ini mungkin bisa
mengembangkan kemampuan anak-anak untuk berempati;
memahami pikiran dan perasaan orang lain,
serta menyesuaikan tindakan mereka.
1.
Membacakan cerita fiksi merupakan alat yang ampuh
untuk membangun empati.
Ketika membacakan buku atau mendiskusikannya,
jangan membahas apa yang terjadi, tapi mengapa hal itu terjadi
– mengapa karakter tertentu merasa seperti itu
dan apa yang menyebabkannya membuat pilihan tertentu.
2.
Bermain merupakan waktu ketika anak-anak belajar keterampilan
dan mengembangkan hubungan sosial serta emosional.
Suruh anak-anak bermain berkelompok pada saat istirahat
dan berpikir dua kali sebelum melarang mereka bermain sebagai hukuman.
3.
Ujian atau ulangan di sekolah hanya salah satu ukuran keberhasilan.
Yang sama pentingnya adalah kebugaran anak secara sosial dan emosional,
kemampuan mereka untuk menjalin hubungan yang bermakna
dan bekerja dengan orang lain untuk memecahkan masalah.
Berikan semangat kepada anak-anak
ketika mereka menunjukkan empati dan mendapat nilai ujian yang bagus.
4.
Ingatlah, Anda adalah guru yang terbaik bagi anak Anda.
Berbagi cerita saat Anda merasa sedih.
Ceritakan bagaimana perasaan Anda dan apa penyebabnya
serta apa yang Anda lakukan untuk mengatasinya.
Jangan langsung memberikan hukuman
ketika anak Anda menyakiti temannya,
tanyakan padanya bagaimana dia membuat orang lain sakit,
dan bagaimana bila dia yang disakiti.
*Sumber: Intisari-Online.com
Kamis, 21 Maret 2013
Anak Cerdas Berkat Seni
Tentu ada alasan kuat
mengapa "mata pelajaran" anak di kelompok bermain
lebih banyak berisi kegiatan menggambar,
mewarnai, atau menggunting dan menempel.
Penelitian menunjukkan, kegiatan seni membuat otak anak lebih cerdas.
"Seni akan meningkatkan proses belajar anak," kata Eric Jensen,
peneliti dan penulis Arts with the Brain in Mind.
Anak-anak yang didorong melakukan kegiatan kesenian dan kreatif
cenderung kemampuan akademiknya baik.
Menurut Jensen, karena anak lebih mampu menyimpan informasi lebih lama,
lebih percaya diri, dan punya kemampuan berpikir independen yang lebih baik.
Coba gali ekspresi dan kreativitas anak melalui berbagai kegiatan,
mulai dari menggambar, mewarnai, atau menciptakan
berbagai mainan dari benda-benda sederhana
seperti kertas atau botol plastik bekas pakai.
Sediakan berbagai kebutuhan anak,
mulai dari lem, pensil warna, spons, gunting, dan kertas.
Biarkan ia menumpahkan imajinasinya
dan berikan apresiasi positif untuk hasil karyanya.
Anak usia prasekolah biasanya memiliki ide sendiri
yang ingin ia ekspresikan melalui seni.
Anak yang berbakat juga biasanya tidak memberi respon pada arahan-arahan
yang diberikan orang dewasa dan lebih suka mengikuti imajinasinya sendiri.
Tugas orangtua adalah membantu anak mewujudkan visinya.
Misalnya, jika anak ingin membuat awan, cukup berikan ia spidol warna atau kapas.
Hindari memberikan kritik pada hasil karya si kecil.
Biarkan anak merasa bebas untuk mencoba hal-hal berbeda
tanpa ada tekanan untuk menyenangkan Anda atau orang lain.
*Sumber: Kompas.com
Label:
anak,
bakat,
cerdas,
ekspresi,
ide,
kertas,
kreativitas,
pensil warna,
seni,
spidol
Rabu, 20 Maret 2013
Tips Ajak Anak Bercerita tentang Kegiatan Hariannya
Adalah lumrah bila orangtua ingin tahu yang sedang terjadi pada kehidupan si kecil.
Namun mereka mengeluh sulit ajak anak bercerita mengenai harinya.
Ketika ia menolak bercerita
jangan serta merta menyalahkan si anak yang tertutup.
sebagai orangtua, lah yang belum tepat.
Michele Borba, Ed.D., dari GalTime.com menyarankan
menggunakan beragam strategi untuk berkomunikasi dengan si anak.
Cari yang tepat untuk Anda dan si kecil,
dan latihlah hal tersebut berulang-ulang
hingga menjadi hal yang cukup alamiah.
Berikut tipsnya:
1.
Begitu ia sampai di rumah jangan langsung mengajukan pertanyaan mengenai harinya.
Biasanya anak-anak merasa kelelahan dan tak bersemangat begitu tiba di rumah.
Tunggu setidaknya 30 menit sebelum memulai percakapan.
Beri kesempatan menenangkan diri, makan sedikit camilan, dan beristirahat sejenak.
2.
Jangan ubah perbincangan jadi rentetan peraturan.
Anak-anak tidak suka jika orangtuanya memaksa,
bercanda yang menyinggung, mengancam,
menuduh, menguliahi, atau memarahinya.
3.
Berikan perhatian penuh.
Pastikan Anda berada dalam kondisi tenang,
tampak tulus, dan tertarik akan cerita si kecil.
Tentu hal ini akan terlihat dari bahasa tubuh Anda.
4.
Pertanyaan terbuka.
Jangan berikan pertanyaan yang bisa dijawab dengan "ya" atau "tidak".
Buatlah pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya terbuka.
5.
Jangan menanyakan hal-hal yang sudah bisa ditebak,
seperti "Bagaimana pelajaran di sekolah?" Cobalah jadi kreatif.
Ubah cara bertanya sehingga anak tertarik.
6.
Berhenti dan dengarkan.
Begitu si anak mulai menceritakan tentang harinya di sekolah,
berhentilah melakukan apa pun yang sedang Anda lakukan,
dan berikan perhatian penuh.
Tangkap informasi sekecil apa pun untuk Anda tanyakan lagi kepadanya
dan berikan ekspresi bahwa Anda memang tertarik.
Ia akan terbuka begitu ia tahu bahwa Anda memang tertarik.
7.
Ciptakan perbincangan yang santai dan menyenangkan.
Jika si anak berbagi detail, coba gunakan metode memancing cerita.
Gunakan kalimat penyambung ungkap,
seperti, "Oya?", "Iya," atau "Wow, kok bisa gitu, ya?"
Pertanyaan semacam ini mengundang si kecil untuk bercerita.
8.
Mengulang ucapannya.
Cobalah ulang ucapan yang ia sampaikan.
Misal, "Aku main ayunan di taman tadi."
Anda bisa balas, "Kamu main di ayunan?"
Trik ini akan menarik ketertarikan si anak untuk terbuka kepada Anda.
9.
Rumah yang menyenangkan untuk anak-anak.
Kebanyakan orangtua merasa tahu lebih banyak
tentang anaknya dari teman si anak.
Coba membuat rumah lebih menyenangkan
untuk dikunjungi teman-teman si anak.
Undang teman-teman si anak,
isi kulkas dengan makanan menyenangkan.
Siapkan keranjang basket atau mainan lain
yang bisa dimainkan oleh si anak bersama teman-temannya.
Coba bersikap bersahabat kepada teman-temannya.
Tak hanya teman-temannya yang akan berbagi cerita,
tetapi si anak bisa jadi ikut-ikutan masuk dalam perbincangan.
10.
Info yang berkaitan dengan sekolah.
Cari tahu apa pun yang berkaitan dengan sekolah.
Entah itu dengan mengikuti perkumpulan orangtua,
atau minta dikirimkan buletin sekolah jika ada.
Jangan segan untuk mencari tahu tentang guru
dan keadaan kelas si kecil dari wali kelas atau orangtua lain.
11.
Kenali waktu harian si anak.
Ketahui kapan si anak paling enak diajak bicara.
Kenali waktu senggangnya.
12.
Duduk bersebelahan.
Anak laki-laki memang cenderung lebih tertutup.
Anak yang sensitif akan merasa takut jika orangtuanya
mengajak duduk dan berkata,
"Sini, Mama mau bicara soal kegiatan harianmu."
Coba datangi ia, duduk di sebelahnya,
jangan berseberangan, karena ia akan melihatnya
sebagai sebuah ancaman atau penghakiman.
13.
Kenali kesukaannya.
Beberapa anak, khususnya anak laki-laki
lebih mudah terbuka saat ia bicara tentang dirinya
sambil melakukan suatu hal yang ia sukai,
seperti lempar bola basket, makan es krim, menggambar,
atau membangun Lego.
14.
Masukkan diri Anda dalam perbincangan.
Mulailah bercerita tentang kegiatan harian Anda,
si kecil dengan sendirinya akan turut berbagi cerita.
Hal ini bisa Anda lakukan sambil makan malam bersama.
Akan lebih baik jika si Ayah pun ikutan berbagi cerita hariannya.
*Sumber: KOMPAS.com
Selasa, 19 Maret 2013
Ajarkan Optimisme pada Anak
Optimisme pada anak, khusus bagi remaja
mampu atasi depresi dan lindungi dari masalah emosional.
Dalam studi terhadap 5.600 anak pra-remaja di Australia,
ditemukan bahwa pikiran yang optimis
bisa membantu melindungi anak dari masalah emosional,
seperti sikap antisosial, penggunaan narkoba, depresi, dan lainnya.
Optimisme mampu menghadapi permasalahan hidup yang menekan.
Optimisme bisa dibentuk,
namun yang terpenting adalah contoh dari orangtua.
Mencontoh orangtua adalah cara anak belajar menjalani hidup.
Jika orangtua adalah tipe yang optimistis menghadapi hidup,
anak juga akan berlaku seperti itu.
Berikut beberapa tips membuat anak bersikap optimis:
Mendengar dengan seksama
Biarkan anak utarakan apa yang ingin diungkap,
orangtua harus mendengar tanpa menghakimi.
Anak-anak memiliki perasaan yang kuat
tetapi tak punya kata-kata yang tepat untuk mengekspresikannya.
Cerita yang diutarakan merupakan pembelajaran proses berpikir mereka.
Mereka bisa saja bilang, "Saya benci Matematika!"
padahal maksudnya adalah
"Bagaimana caranya saya bisa belajar Matematika dengan lebih baik?"
Tugas para orangtua adalah mencari tahu apa yang ingin mereka ucapkan.
Hindari pelabelan
Sadar atau tidak,
anak-anak akan berusaha memenuhi atau melawan pengharapan orangtuanya.
Ketika orangtua mengatakan, "Ia sangat pemalu,"
dan si anak mendengarnya,
hal itu akan menjadi identitas permanen dalam dirinya.
Pelabelan negatif pada anak bisa membahayakan konsep diri anak.
Bantu anak menghadapi masalah
Anak remaja ingin dimengerti dengan serius,
orangtua harus menghadapi keadaannya.
Jika si anak menyatakan enggan pergi ke sekolah,
orangtua jangan menjawab dengan kalimat klise
seperti, "Tenang, semua akan baik-baik saja!"
Tanya apa yang mengganggunya
sehingga tidak nyaman pergi ke sekolah
Dan cari hal-hal yang disukai anak di sekolah.
Melihat sisi baik
Tunjukkan kepada si anak mengenai sisi baik dan sisi buruk
dari setiap situasi yang ia hadapi.
Saat si kecil merasa sedih
dan melihat dunia sebagai tempat yang sangat buruk untuk ditinggali,
orangtua bisa mengatakan
bahwa dunia butuh keseimbangan
hal-hal buruk bisa terjadi,
sehingga kita bisa melihat hal-hal baik
dan menghargainya lebih baik.
Optimisme dan harapan adalah hal yang sangat erat
para orangtua sering mengabaikannya.
Padahal hal itu diperlukan oleh anak
untuk bangun di pagi hari
dan menjalani hari-hari yang membentang dihadapannya.
*Sumber: KOMPAS.com
Langganan:
Postingan (Atom)



